Ketua SMSI menilai, pembangunan tanpa penghormatan terhadap sejarah adalah kebijakan yang pincang. Ia menegaskan, jika pemerintah benar-benar serius menghidupkan semangat koperasi, maka menjaga dan merawat Tugu Koperasi seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap agenda.
“Jangan sampai koperasi hanya dijadikan jargon dan proyek. Sejarahnya saja tidak dirawat, bagaimana nilai dan ruh koperasi bisa ditanamkan ke generasi sekarang,” tegasnya.
Baca juga:Situ Sanghyang, Wisata Lokal di Tengah Alam yang Masih Asri
SMSI mendorong pemerintah daerah maupun pusat agar segera mengambil langkah konkret, mulai dari penataan kawasan, perawatan rutin, hingga penguatan status cagar budaya. Tanpa itu, Tugu Koperasi dikhawatirkan hanya akan menjadi monumen bisu yang ditinggalkan oleh kebijakan yang lupa pada akar sejarahnya sendiri. (Amf)








