Kilas Banten – Di lereng Pegunungan Kendeng, Banten, tersimpan sebuah kekayaan budaya yang tetap lestari hingga kini, Suku Baduy. Masyarakat adat ini dikenal karena kemampuan mereka mempertahankan tradisi leluhur yang sudah hidup selama ratusan tahun, meski dunia di luar mereka terus berkembang pesat.
Baduy bukan sekadar komunitas lokal, mereka menjadi simbol kearifan lokal, kesederhanaan, dan keharmonisan hidup dengan alam.
Secara umum, Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam adalah kelompok yang sangat konservatif. Mereka hidup tanpa teknologi modern, menolak pengaruh luar, dan tetap setia pada aturan adat yang ketat.
Pakaian mereka khas, sederhana, dan serba putih untuk laki-laki atau hitam untuk perempuan, menandakan kesucian dan keterikatan pada tradisi.
Sedangkan Baduy Luar lebih terbuka terhadap interaksi dengan dunia luar. Mereka masih mengikuti sebagian aturan adat, namun lebih fleksibel dalam menerima teknologi, pendidikan, dan kegiatan ekonomi modern.
Kehidupan masyarakat Baduy sangat harmonis dengan alam. Mereka hidup dari bercocok tanam, mengandalkan ladang, kebun, dan hutan sekitar sebagai sumber pangan. Filosofi hidup mereka menekankan kesederhanaan, gotong-royong, dan menjaga keseimbangan alam.
Setiap keputusan diambil berdasarkan musyawarah adat, dan aturan adat menjadi pedoman utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain nilai-nilai budaya yang kaya, wilayah Suku Baduy menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan.








