Kilas Sumedang – Di balik jalur berliku yang menghubungkan Sumedang dan Bandung, berdiri sebuah tebing cadas yang menjulang kokoh. Tempat itu dikenal dengan nama Cadas Pangeran, sebuah kawasan yang tidak hanya menyimpan keindahan alam Jawa Barat, tetapi juga menyimpan kisah heroik tentang keberanian, perlawanan, dan harga diri seorang pemimpin daerah Sunda pada masa penjajahan Belanda.

Cadas Pangeran menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada awal abad ke-19, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Jalan ini membentang dari Anyer hingga Panarukan dengan tujuan utama mempercepat mobilisasi militer dan logistik Belanda.

Namun, di balik ambisi besar tersebut, tersimpan penderitaan rakyat pribumi yang dipaksa bekerja melalui sistem kerja rodi, tanpa upah dan tanpa jaminan keselamatan.

Wilayah Sumedang merupakan salah satu daerah tersulit dalam proyek pembangunan jalan tersebut. Medan yang dilalui berupa tebing batu terjal yang berbatasan langsung dengan jurang dalam. Rakyat Sumedang dipaksa memahat batu cadas dengan peralatan seadanya, bekerja siang dan malam di bawah tekanan penjajah. Banyak di antara mereka yang jatuh sakit, mengalami kecelakaan, bahkan kehilangan nyawa.

Pada masa itulah, Sumedang dipimpin oleh seorang bangsawan Sunda bernama Pangeran Kornel, yang memiliki nama asli Raden Tumenggung Surianagara. Sebagai Bupati Sumedang, Pangeran Kornel dikenal sebagai pemimpin yang tegas, berani, dan memiliki kepedulian besar terhadap nasib rakyatnya. Ia tidak tinggal diam melihat penderitaan rakyat yang diperlakukan tidak manusiawi oleh penguasa kolonial.

Ketegangan memuncak ketika Gubernur Jenderal Daendels melakukan inspeksi langsung ke lokasi pembangunan jalan di wilayah Cadas Pangeran. Dalam adat ketimuran, rakyat dan pejabat pribumi diwajibkan menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada penguasa kolonial. Namun, Pangeran Kornel justru berdiri tegak dan menatap Daendels tanpa rasa takut, sebuah sikap yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terbuka.

Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, Daendels yang dikenal bertemperamen keras merasa tersinggung dan mengangkat tongkatnya ke arah Pangeran Kornel. Namun, dengan keberanian luar biasa, Pangeran Kornel menepis tongkat tersebut dan menyampaikan penolakannya terhadap perlakuan sewenang-wenang kepada rakyat Sumedang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini