Baca juga:Saomadaha, Pesona Laguna Tersembunyi di Pantai Sulamadaha Ternate
Sementara itu, mantan anggota DPRD Subang, Dede Warman, menyoroti sejauh mana masyarakat lokal memperoleh manfaat dari masuknya industri. Ia menilai keberhasilan industrialisasi tidak cukup diukur dari bertambahnya investasi dan aktivitas usaha, tetapi juga harus dilihat dari dampaknya terhadap mata pencaharian serta kesempatan kerja warga.
“Harus jujur, apa yang didapat masyarakat lokal dari masuknya industri ke Subang,” kata Dede.
Ia berharap pemerintah daerah dan DPRD bersikap tegas terhadap perusahaan yang terbukti melanggar aturan. Dede juga menilai masyarakat perlu dilibatkan dalam pembahasan persoalan industri agar aspirasi warga tidak terabaikan.
Aktivis lingkungan, Andi, turut menekankan pentingnya penegakan aturan. Menurutnya, pemerintah harus menjalankan kewenangannya, sedangkan lembaga legislatif perlu memperkuat fungsi pengawasan.
Baca juga:Di Balik Hutan Tropis, Kalimantan Punya Surga Bahari Tersembunyi
Dalam menanggapi persoalan PT CMM, Andi menolak apabila proses pengurusan perizinan dijadikan alasan untuk mengabaikan dugaan pelanggaran yang masih harus diperiksa.
“Tidak ada toleransi lagi,” tegasnya.
Andi bahkan menyampaikan pandangan agar PT CMM ditutup total. Namun, pernyataan tersebut merupakan sikap pribadi yang disampaikan dalam forum, bukan keputusan resmi mengenai status perusahaan. Penetapan pelanggaran dan tindakan hukum tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan serta keputusan instansi berwenang.
Pemerhati sosial, Megi Akbar Setiawan, menilai industrialisasi yang berlangsung cepat menghadirkan tantangan sosial bagi Kabupaten Subang. Ia menyebut situasi tersebut sebagai shock culture, yakni kondisi ketika masyarakat dan berbagai pihak harus beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Megi mendorong adanya ruang dialog yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, dan pihak industri. Menurutnya, komunikasi terbuka diperlukan agar persoalan yang berkembang tidak berujung pada dugaan tanpa kejelasan.
“Jangan sampai pada akhirnya kita menduga-duga,” ujar Megi.
Berbagai pandangan yang muncul dalam seminar FMSB memperlihatkan bahwa industrialisasi Subang tidak hanya menyangkut investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kesiapan regulasi, perlindungan lingkungan, pengawasan, serta pemerataan manfaat bagi masyarakat juga menjadi persoalan penting yang perlu mendapat perhatian.
Reporter:Sutia








