Kilas Tasik – Tikar mendong, salah satu produk kerajinan khas Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, kini kian tergerus oleh perkembangan zaman. Produk anyaman tradisional yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat setempat itu perlahan mulai ditinggalkan, kalah bersaing dengan produk modern berbahan plastik dan pabrikan. Jika tidak ada upaya serius, tikar mendong dikhawatirkan hanya tinggal cerita sejarah.
Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candra Negara, terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga serta mencintai produk lokal. Menurutnya, tikar mendong bukan sekadar alas duduk, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan identitas daerah.
“Produk lokal seperti tikar mendong ini adalah jati diri Tasikmalaya. Kalau bukan kita yang menjaga dan menggunakan, siapa lagi?” ujar Wawali Rd Diky Candra Negara dalam salah satu kegiatan sosialisasi kepada warga.
Baca juga:Ciung Wanara dan Adu Ayam, Sejarah yang Jarang Diceritakan
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Tasikmalaya berkomitmen mendorong kebangkitan UMKM lokal, termasuk para perajin tikar mendong di Purbaratu. Dukungan tersebut tidak hanya berupa imbauan, tetapi juga melalui penguatan promosi, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.








