Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya tidak pernah benar-benar diam,ia bergerak mengikuti zaman, namun tetap membawa roh masa lalu.
Di kawasan budaya seperti Setu Babakan, ondel-ondel masih dirawat sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi Betawi. Generasi muda diperkenalkan pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya sendiri meskipun hidup di era digital.
Dari sana terlihat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas seniman atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama sebagai bangsa.
Namun, perjalanan ondel-ondel tidak selalu mulus. Modernisasi sempat membuat kesenian tradisional ini terpinggirkan. Di tengah gempuran hiburan modern, ada kekhawatiran bahwa makna filosofis ondel-ondel akan memudar dan hanya dianggap sebagai tontonan biasa.
Baca juga:Pamidangan yang Tertinggal Zaman: Cerita Adu Domba di Babakan Siliwangi
Meski begitu, justru dari tantangan inilah muncul kesadaran baru tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Banyak komunitas budaya kini berupaya mengembalikan marwah ondel-ondel sebagai simbol kehormatan, bukan sekadar objek hiburan.
Lebih dari itu, ondel-ondel mengajarkan satu hal penting: identitas sebuah masyarakat tercermin dari bagaimana mereka menghargai tradisinya. Kota boleh berubah, gedung-gedung tinggi boleh menjulang, teknologi boleh berkembang pesat tetapi budaya adalah akar yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri tegak.
Ketika iringan musik tradisional mulai terdengar dan ondel-ondel perlahan bergerak mengikuti ritme, sesungguhnya yang sedang kita saksikan bukan hanya sebuah pertunjukan. Kita sedang melihat sejarah yang hidup, nilai yang terus bernapas, dan cerita masa lalu yang berjalan berdampingan dengan masa kini.
Ondel-ondel adalah pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Justru dengan merawat budaya, sebuah masyarakat menunjukkan kedewasaannya bahwa mereka mampu melangkah ke masa depan tanpa melupakan dari mana mereka berasal. (Ek)








