Kilas Jakarta – Kehadiran gambar dan tarian naga dalam perayaan Imlek di Indonesia bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah, identitas, dan perjuangan budaya masyarakat keturunan Tionghoa yang telah hidup berdampingan dengan berbagai suku bangsa di Nusantara selama ratusan tahun. Simbol naga sendiri berasal dari filosofi kuno di Tiongkok, tempat makhluk mitologis ini dihormati sebagai lambang kekuatan, kemakmuran, dan pembawa keberuntungan.
Sejak gelombang perdagangan berabad-abad lalu, para pedagang dan perantau Tionghoa membawa serta tradisi leluhur mereka, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek. Pada masa itu, ornamen naga sudah digunakan dalam ritual, dekorasi kelenteng, hingga pertunjukan rakyat. Namun perayaan tersebut masih bersifat komunitas dirayakan di kawasan permukiman atau sekitar rumah ibadah belum menjadi tontonan besar seperti sekarang.
Memasuki abad ke-20, terutama di kota-kota pelabuhan, pertunjukan naga dan barongsai mulai dikenal masyarakat luas. Tarian naga yang dimainkan banyak orang melambangkan kebersamaan dan harapan akan rezeki yang mengalir tanpa putus, seperti tubuh naga yang panjang dan bergerak dinamis. Suara tabuhan drum serta warna merah yang mendominasi dipercaya mampu mengusir energi buruk dan membuka jalan bagi keberuntungan di tahun yang baru.
Baca juga:Pacu Jawi, Tradisi Balapan Sapi Unik Warisan Budaya Minangkabau
Namun perjalanan tradisi ini sempat mengalami masa sulit. Pada era pemerintahan Soeharto, ekspresi budaya Tionghoa dibatasi di ruang publik. Perayaan Imlek tidak sepenuhnya hilang, tetapi dilakukan secara tertutup. Gambar naga jarang terlihat di jalanan, pertunjukan pun nyaris tak terdengar. Banyak generasi muda bahkan tumbuh tanpa pernah menyaksikan tarian naga secara langsung. Tradisi yang sebelumnya meriah seolah masuk ke ruang sunyi tetap hidup, tetapi tersembunyi.
Perubahan besar terjadi setelah masa reformasi. Ketika Abdurrahman Wahid memimpin, kebijakan yang membatasi budaya Tionghoa dicabut. Masyarakat kembali diberi kebebasan mengekspresikan tradisi mereka. Inilah momen penting yang sering dianggap sebagai “kelahiran kembali” perayaan Imlek di Indonesia.
Tak lama kemudian, kota-kota besar seperti Jakarta mulai menyelenggarakan perayaan terbuka. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, naga kembali “menari” di ruang publik di halaman kelenteng, pusat perbelanjaan, hingga festival budaya. Antusiasme masyarakat begitu terasa, bukan hanya warga keturunan Tionghoa yang datang menyaksikan, tetapi juga masyarakat umum yang penasaran dengan tradisi yang lama tak terlihat.








