Kilas Tasikmalaya – Di Kampung Cikiray, RT 22 RW 06, Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, kehidupan masyarakat berjalan selaras dengan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kampung ini dikenal sebagai sentra pengrajin anyaman bambu, di mana hampir seluruh warga menggantungkan mata pencaharian dari keterampilan tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas mereka sejak lama.

Sejak pagi hari, aktivitas warga sudah dipenuhi dengan kesibukan mengolah bambu menjadi berbagai produk rumah tangga. Bambu yang telah dipotong kemudian diraut, dihaluskan, dan dianyam dengan penuh ketelatenan hingga menjadi barang bernilai guna.

Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari nyiru, ayakan, tampir untuk menjemur padi, hingga aseupan yang biasa digunakan untuk memasak nasi dan membuat tumpeng. Semua dikerjakan secara manual, mengandalkan keterampilan tangan yang telah diasah selama bertahun-tahun.

Baca juga:Golok Galonggong Manonjaya, Warisan Pandai Besi dari Tasikmalaya

Salah satu pengrajin, Ibu Masitoh, mengungkapkan bahwa dirinya telah menekuni pekerjaan ini selama kurang lebih 10 tahun. Namun, bagi masyarakat Kampung Cikiray, menganyam bukan sekadar pekerjaan yang baru dipelajari, melainkan warisan budaya yang sudah ada sejak zaman orang tua mereka dahulu.

“Sudah turun-temurun, pak. Rata-rata warga di sini kesehariannya memang dari anyaman bambu,” tutur Masitoh. Rabu 01 April 2026.

Keterampilan menganyam bambu diwariskan dari generasi ke generasi, biasanya dimulai sejak usia muda. Anak-anak di kampung ini sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja, hingga secara alami mereka pun belajar dan mengikuti jejak tersebut. Hal ini membuat tradisi anyaman bambu tetap hidup dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini