Kilas Tasikmalaya – Di balik dentingan palu yang beradu dengan besi panas, tersimpan kisah panjang tentang kearifan lokal masyarakat Tasikmalaya. Salah satunya adalah Golok Galonggong, alat tradisional khas yang lahir dari Kampung Galonggong, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Golok ini bukan sekadar alat potong atau senjata tradisional, melainkan simbol ketekunan, keahlian, dan identitas budaya masyarakat Sunda yang diwariskan lintas generasi.

Produksi golok Galonggong telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Kampung Galonggong dikenal sebagai sentra pandai besi, tempat para pengrajin mengolah logam dengan cara tradisional. Keahlian membuat golok diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anaknya, menjadikan profesi pandai besi bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga bagian dari kehidupan dan tradisi keluarga.

Proses pembuatan golok Galonggong masih mempertahankan cara-cara tradisional. Bahan baku berupa besi atau baja dipilih secara cermat, karena kualitas logam sangat menentukan ketajaman dan kekuatan bilah. Besi kemudian dipanaskan di atas tungku berbahan bakar arang hingga memerah. Setelah mencapai suhu tertentu, besi ditempa secara manual menggunakan palu besar.

Baca juga:Rasa yang Tak Bisa Digantikan, Cobek Batu di Tengah Modernisasi

Proses penempaan ini membutuhkan ketelitian, tenaga, dan pengalaman agar bilah golok terbentuk sesuai karakter khas Galonggong kokoh, seimbang, dan tajam.

Setelah bilah terbentuk, pengrajin melanjutkan proses penghalusan dan pengasahan. Tahap ini dilakukan berulang kali untuk menghasilkan golok yang tidak hanya tajam, tetapi juga awet digunakan. Sementara itu, gagang golok dibuat dari bahan alami seperti kayu pilihan atau tanduk kerbau. Pegangan tersebut dibentuk dan diukir dengan motif sederhana khas Sunda, mengutamakan kenyamanan sekaligus nilai estetika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini