“Kami sangat mengapresiasi kehadiran teman-teman dari Gerakan Mengajar Desa. Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan. Bagi mereka, kedatangan para tutor bukan hanya kegiatan belajar biasa, tetapi menjadi pengalaman baru yang membuat mereka lebih bersemangat untuk belajar dan mengenal dunia di luar lingkungan mereka,” ujar salah satu guru SDN 5 Ciawi.
Kesan mendalam juga terlihat setelah kegiatan belajar selesai. Sejumlah siswa memberikan surat yang mereka tulis sendiri untuk para tutor.
Baca juga:Pacu Jawi, Tradisi Balapan Sapi Unik Warisan Budaya Minangkabau
Surat-surat tersebut berisi ucapan terima kasih, kesan selama mengikuti kegiatan hingga pesan pribadi dari anak-anak kepada para tutor.
Momen sederhana itu justru menjadi salah satu bagian paling mengharukan dalam pelaksanaan GMD di Ciawi. Beberapa tutor mengaku tersentuh ketika membaca surat dari para siswa.
“Kami awalnya datang dengan niat ingin memberikan sesuatu kepada mereka. Tapi ternyata justru anak-anak yang memberikan sesuatu yang sangat berarti untuk kami. Suratnya sederhana, tetapi ketika membacanya, rasanya perjuangan dan waktu yang kami keluarkan terbayar. Kami benar-benar terharu,” ujar salah satu tutor.
Baca juga:Kearifan Lokal Suku Baduy, Budaya yang Tetap Lestari di Banten
Masyarakat sekitar pun menyambut baik kegiatan tersebut. Kehadiran pemuda dari berbagai kampus dinilai menjadi bukti bahwa pendidikan dan kegiatan sosial dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat.
“Kami senang ada anak-anak muda yang mau datang dan mengabdi di sini. Semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai kegiatan GMD saja, tetapi bisa terus memberikan semangat kepada anak-anak dan masyarakat,” ujar salah satu warga Ciawi.
Bagi para tutor, pengabdian tersebut juga menjadi proses belajar dua arah. Mereka tidak hanya datang untuk berbagi ilmu, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai kehidupan masyarakat desa serta melihat secara langsung karakter dan semangat anak-anak.
Baca juga:Tari Andun, Tarian Rakyat Sakral dalam Tradisi Nundang Padi
Kang Bara menyebut perbedaan latar belakang para tutor justru menjadi kekuatan tersendiri.
“Kami datang dari kampus yang berbeda, daerah yang berbeda, bahkan mungkin punya pengalaman hidup yang berbeda. Tetapi ketika turun ke desa, semua sekat itu hilang. Yang ada adalah bagaimana kami bisa bekerja sama dan memberikan manfaat. Saya kira ini adalah salah satu bentuk semangat pemuda yang dibutuhkan Indonesia,” ungkap Kang Bara.
Melalui Gerakan Mengajar Desa, kelompok Kabupaten Tasikmalaya berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Semangat belajar, keberanian bermimpi dan kepedulian sosial diharapkan terus tumbuh setelah para tutor kembali ke daerah masing-masing.
Menjelang Hari Kemerdekaan, kegiatan GMD di Ciawi menjadi salah satu bentuk nyata cara generasi muda mengisi kemerdekaan. Bukan hanya dengan seremoni, tetapi melalui pendidikan, pengabdian dan aksi nyata di tengah masyarakat.(Dit)








