Kilas Ciamis – Di kaki perbukitan Panjalu, Kabupaten Ciamis, terhampar sebuah danau yang tenang namun sarat makna sejarah. Situ Lengkong Panjalu bukan sekadar bentang alam, melainkan saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sunda lama yang memadukan unsur kekuasaan, kepercayaan, dan kearifan lokal.

Airnya yang teduh seolah menyimpan kisah masa silam tentang kejayaan Kerajaan Panjalu, legenda tokoh-tokoh besar, hingga tradisi adat yang masih hidup hingga kini.

Situ Lengkong berada di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, dengan luas sekitar 57 hektare. Di tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau yang dikenal dengan nama Nusa Gede atau Nusa Larang, pulau yang sejak ratusan tahun lalu dianggap suci dan tidak boleh sembarangan dimanfaatkan. Pulau inilah yang menjadi pusat sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat Panjalu.

Awal Mula Situ Lengkong dan Kerajaan Panjalu. Sejarah Situ Lengkong tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kerajaan Panjalu, salah satu kerajaan tua di wilayah Tatar Sunda. Dalam berbagai naskah lokal dan tradisi lisan masyarakat, Panjalu dikenal sebagai kerajaan yang memiliki peran penting dalam perkembangan budaya dan pemerintahan di Jawa Barat bagian timur.

Menurut legenda yang berkembang turun-temurun, Situ Lengkong awalnya bukanlah danau. Kawasan tersebut diyakini sebagai sebuah lembah atau dataran rendah yang kemudian berubah menjadi danau melalui peristiwa luar biasa. Tokoh sentral dalam kisah ini adalah Sanghyang Borosngora, putra raja Panjalu yang dikenal sebagai sosok bijak dan religius.

Dikisahkan, Sanghyang Borosngora melakukan perjalanan panjang untuk menuntut ilmu agama hingga ke Tanah Suci Mekah. Sepulangnya ke Panjalu, ia membawa air zamzam yang disimpan dalam sebuah gayung. Air tersebut kemudian dituangkan ke sebuah lembah sebagai simbol penyucian dan keberkahan. Atas kehendak Sang Pencipta, lembah itu berubah menjadi danau besar yang kemudian dikenal sebagai Situ Lengkong Panjalu.

Pulau di tengahnya dinamakan Nusa Larang, yang bermakna “pulau terlarang” atau “pulau yang disucikan”.
Legenda ini tidak hanya dimaknai secara harfiah, tetapi juga sebagai simbol masuknya nilai-nilai keislaman ke wilayah Panjalu, yang kemudian berpadu dengan tradisi Sunda lama.

Nusa Larang: Pusat Kekuasaan dan Spiritualitas

Pulau Nusa Larang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah Panjalu. Pada masa kerajaan, pulau ini diyakini menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas kerajaan, tempat berdirinya bangunan penting seperti keraton, tempat musyawarah, dan pusat ritual adat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini