Ia menegaskan bahwa rakyatnya bukan budak dan tidak layak diperlakukan secara kejam demi ambisi penjajah.
Sikap tegas Pangeran Kornel tersebut menjadi simbol perlawanan moral terhadap kolonialisme. Meski berada dalam posisi terjajah dan berhadapan langsung dengan penguasa tertinggi Hindia Belanda, Pangeran Kornel memilih mempertahankan martabat dan harga diri bangsanya. Keberaniannya menggambarkan karakter kepemimpinan Sunda yang menjunjung tinggi nilai keadilan, keberanian, dan tanggung jawab terhadap rakyat.
Peristiwa di Cadas Pangeran kemudian dikenang sebagai salah satu momen penting dalam sejarah perlawanan lokal di Jawa Barat. Tidak melalui peperangan bersenjata, melainkan melalui keberanian sikap dan keteguhan prinsip. Kisah ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda sebagai teladan kepemimpinan yang berani berdiri di pihak rakyat, meski harus menghadapi risiko besar.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keberanian Pangeran Kornel, pemerintah mendirikan Monumen Cadas Pangeran di lokasi tersebut. Monumen ini menggambarkan sosok Pangeran Kornel yang berdiri berhadapan dengan Daendels, menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan kolonial. Hingga kini, monumen tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan keadilan lahir dari keberanian menolak ketidakadilan.
Saat ini, kawasan Cadas Pangeran tidak hanya dikenal sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Keindahan alamnya yang berpadu dengan nilai sejarah menjadikan tempat ini sering dikunjungi oleh pelajar, peneliti, dan wisatawan. Setiap lekuk tebing dan jalur jalan yang membelah batu cadas seakan menyimpan gema suara perjuangan masa lalu.
Cadas Pangeran menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya tercatat dalam buku, tetapi juga terpatri pada alam dan ingatan masyarakat. Kisah Pangeran Kornel mengajarkan bahwa keberanian seorang pemimpin dalam membela rakyatnya dapat meninggalkan jejak abadi, melampaui zaman dan generasi. (Ek)








