Kilas Tasikmalaya – Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan merupakan salah satu figur sentral dalam sejarah perkembangan Islam dan tradisi pesantren di wilayah Tatar Sunda. Kiprahnya tidak hanya menandai tumbuhnya pusat-pusat pendidikan keislaman, tetapi juga membentuk watak dakwah Islam yang khas Sunda, damai, berakar pada budaya lokal, dan berorientasi pada pembinaan manusia secara utuh.
Jejak pengaruhnya terbentang luas, meliputi kawasan Cirebon, Kuningan, Garut, hingga Sukapura wilayah yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya dan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.
Berbekal keilmuan agama yang mendalam, Syeikh Abdul Muhyi dikenal sebagai ulama yang matang secara intelektual dan spiritual. Ia memiliki sanad keilmuan yang kuat serta jejaring ulama lintas wilayah, yang memperkaya perspektif dakwahnya. Selain itu, jalur nasab yang dimilikinya turut memberikan legitimasi sosial dan religius, namun tidak pernah ia gunakan sebagai alat dominasi.
Sebaliknya, seluruh modal tersebut dijadikan fondasi untuk membangun pendidikan dan pembinaan masyarakat secara berkelanjutan.
Pada masa ketika dinamika politik dan konflik kekuasaan kerap mewarnai proses islamisasi, Syeikh Abdul Muhyi justru memilih jalan yang berbeda. Ia tidak menempuh jalur konfrontatif seperti perlawanan bersenjata, perebutan kekuasaan, atau pertarungan politik terbuka.
Pilihannya jatuh pada dakwah kultural sebuah pendekatan yang menempatkan pendidikan, keteladanan, dan penguatan nilai-nilai moral sebagai sarana utama transformasi sosial. Melalui jalur inilah Islam diperkenalkan sebagai ajaran yang menyejukkan, membangun, dan membebaskan manusia dari kebodohan serta keterbelakangan spiritual.
Pesantren menjadi medium utama perjuangannya. Tidak sekadar sebagai tempat belajar ilmu agama, pesantren yang dirintis dan dikembangkan dalam jaringan Syeikh Abdul Muhyi berfungsi sebagai pusat pembentukan karakter, penggemblengan akhlak, dan penguatan solidaritas sosial.








