Payung Geulis kerap digunakan sebagai properti tari tradisional, perlengkapan upacara adat, hingga dekorasi dalam berbagai acara kebudayaan. Pada masa inilah Payung Geulis semakin dikenal luas dan menjadi simbol identitas budaya Tasikmalaya.

Perkembangan Payung Geulis juga tidak terlepas dari peran para perajin yang secara turun-temurun mewariskan keterampilan ini kepada generasi berikutnya. Proses pembuatan yang seluruhnya dilakukan dengan tangan menjadikan Payung Geulis sebagai produk kerajinan yang bernilai seni tinggi.

Baca juga:Jejak Adu Bagong di Tatar Sunda, Tradisi Lama yang Kini Tinggal Cerita

Selain itu, keberadaan Payung Geulis turut menggerakkan perekonomian masyarakat lokal, terutama bagi keluarga perajin yang menggantungkan hidup dari sektor kerajinan tangan.

Di era modern, ketika produk industri massal semakin mendominasi, Payung Geulis tetap bertahan sebagai simbol keunikan dan kearifan lokal. Saat ini, Payung Geulis lebih banyak dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif, suvenir khas daerah, serta ikon budaya dalam berbagai festival dan pameran seni, baik di tingkat regional maupun nasional.

Pemerintah daerah bersama komunitas budaya terus berupaya melestarikan Payung Geulis melalui pelatihan perajin, promosi pariwisata, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Baca juga:Pacu Jawi, Tradisi Balapan Sapi Unik Warisan Budaya Minangkabau

Payung Geulis bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan representasi dari perjalanan sejarah, nilai estetika, dan jati diri masyarakat Tasikmalaya. Di balik keindahan warnanya tersimpan cerita tentang ketekunan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya sendiri.

Hingga kini, Payung Geulis tetap berdiri sebagai salah satu ikon budaya Jawa Barat yang patut dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Ek)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini