Arena adu domba yang pernah menjadi pusat keramaian itu akhirnya ditinggalkan, menyisakan pamidangan yang kini berdiri sunyi.

Meski tak lagi digunakan, keberadaan pamidangan adu domba di Babakan Siliwangi menyimpan nilai historis yang penting. Ia menjadi penanda bahwa ruang kota tidak hanya dibentuk oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh jejak budaya dan tradisi masyarakatnya.

Pamidangan ini seakan menjadi saksi bisu perjalanan zaman dari era ketika tradisi rakyat hidup berdampingan dengan alam, hingga masa kini ketika kesadaran akan pelestarian lingkungan menjadi prioritas utama.

Kini, di tengah suasana hutan kota yang teduh, pamidangan tersebut lebih sering dilewati tanpa disadari oleh pengunjung. Padahal, bangunan sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang identitas budaya, dinamika sosial, dan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat perkotaan.

Keberadaannya membuka ruang refleksi: bahwa pelestarian kota idealnya tidak hanya menjaga alam, tetapi juga merawat ingatan kolektif dan warisan budaya yang pernah tumbuh di dalamnya.

Pamidangan adu domba Babakan Siliwangi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau monumen besar. Terkadang, sejarah bersembunyi di balik kesederhanaan sebuah arena kayu di tengah hutan kota menunggu untuk kembali diceritakan, dikenang, dan dihargai sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah kota dan masyarakatnya. (Ek)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini