Kilas jabar – Di tanah Pasundan, tradisi rakyat tumbuh seiring eratnya hubungan masyarakat dengan alam dan hewan peliharaan. Salah satu tradisi yang pernah hidup dan berkembang di sejumlah wilayah Jawa Barat adalah adu bagong, sebuah pertunjukan ketangkasan yang melibatkan hewan bagong atau babi hutan.
Meski kini jarang terdengar dan bahkan nyaris punah, adu bagong pernah menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat pedesaan, terutama di kawasan hutan dan perbatasan alam liar.
Adu bagong pada masa lalu kerap digelar sebagai hiburan rakyat sekaligus simbol keberanian dan ketangkasan. Tradisi ini biasanya berlangsung dalam arena terbuka atau lapangan sederhana di dekat hutan, tempat babi hutan sering berkeliaran.
Tidak seperti adu domba yang lebih terstruktur dan memiliki pamidangan khusus, adu bagong cenderung bersifat insidental dan mengikuti kearifan lokal masing-masing daerah.
Dalam pelaksanaannya, adu bagong sering kali melibatkan anjing pemburu atau manusia yang menunjukkan keberanian dan strategi dalam menghadapi hewan liar tersebut.
Bagi sebagian masyarakat, kegiatan ini dipandang sebagai cara melindungi ladang dan kebun dari hama babi hutan yang kerap merusak tanaman. Dengan demikian, adu bagong tidak semata-mata menjadi tontonan, tetapi juga berkaitan erat dengan upaya mempertahankan mata pencaharian petani.
Secara sosial, adu bagong menjadi ruang berkumpulnya warga. Mereka datang dari berbagai kampung, membawa cerita, berbagi pengalaman, dan mempererat ikatan sosial. Sorak sorai penonton, teriakan penyemangat, serta suasana tegang saat berhadapan dengan bagong menciptakan pengalaman kolektif yang membekas dalam ingatan masyarakat.








