Tradisi ini juga sering dikaitkan dengan nilai keberanian, solidaritas, dan kearifan menghadapi alam.
Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan adu bagong mulai dipersoalkan. Meningkatnya kesadaran akan konservasi satwa liar, kesejahteraan hewan, serta perubahan regulasi hukum menyebabkan tradisi ini perlahan ditinggalkan.

Babi hutan dilindungi dalam konteks ekosistem tertentu, sementara praktik yang berpotensi melukai hewan atau manusia tidak lagi mendapat ruang di masyarakat modern. Kini, adu bagong lebih banyak hidup dalam cerita lisan para sesepuh dan catatan sejarah lokal.

Jejaknya tersisa dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa Barat sebagai bagian dari dinamika budaya masa lalu—tradisi yang lahir dari kebutuhan dan kondisi sosial tertentu, namun kemudian harus beradaptasi atau menghilang seiring perubahan nilai.

Tradisi adu bagong menjadi pengingat bahwa kebudayaan bersifat dinamis. Apa yang dahulu dianggap wajar dan bermakna, pada masanya bisa bergeser maknanya di era kini.

Oleh karena itu, alih-alih menghidupkannya kembali sebagai praktik, sebagian budayawan mendorong agar adu bagong didokumentasikan sebagai pengetahuan budaya melalui tulisan, arsip visual, atau cerita sebagai bagian dari sejarah masyarakat Jawa Barat dalam berinteraksi dengan alam dan satwa liar. (Ek)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini