1.Mbah Kahir (Ki Kahir).
2.Ki Ace / Ki Anom.
3.Ki Jeblog.
4.Ki Buyut Kerta
Dari para tokoh inilah Cimande menyebar luas ke berbagai daerah, seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, Banten, hingga menyebrang ke wilayah lain di Nusantara. Dalam perjalanannya, Cimande berkembang menjadi beberapa cabang, seperti Cimande Tarikolot, Cimande Mande, Cimande Landeuhan, dan Cimande Banten.
Meski memiliki variasi gerak dan metode latihan, seluruhnya tetap berpijak pada ajaran dasar Mbah Kahir.
Cimande dalam Perjuangan dan Sejarah.
Pada masa penjajahan Belanda, Pencak Silat Cimande memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak jawara, pejuang rakyat, dan tokoh perlawanan yang menguasai Cimande sebagai bekal mempertahankan diri dan tanah air.
Silat menjadi alat perlawanan kultural, sekaligus simbol keberanian rakyat kecil menghadapi penindasan.
Latihan silat sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi, menyatu dengan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
Dari sinilah Cimande menjadi identitas, bukan hanya keahlian fisik.
Warisan yang Terus Hidup
Hingga hari ini, Pencak Silat Cimande tetap hidup dan berkembang. Ia diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, baik melalui perguruan resmi maupun dalam lingkungan keluarga. Cimande telah melahirkan banyak pendekar, guru silat, dan tokoh budaya yang menjaga marwah ajaran leluhur.
Di tengah modernisasi, Cimande tetap berdiri sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari amarah, melainkan dari kesabaran, keteguhan hati, dan adab yang luhur.
Pencak Silat Cimande adalah cermin kearifan lokal Sunda. Ia lahir dari alam, dibesarkan oleh nilai agama, dan dijaga oleh tradisi. Lebih dari sekadar bela diri, Cimande adalah jalan hidup, yang mengajarkan manusia untuk kuat tanpa angkuh, berani tanpa kejam, dan teguh tanpa kehilangan nurani. (Ek)








