Diky mengaku tidak sedikit ASN yang ingin membantu karena merasa iba melihat kondisinya. Namun ia menolak dengan halus dan hanya meminta doa agar segala proses berjalan lancar. “Cukup doakan saya. Tidak ada yang lebih bermanfaat dari doa tulus orang-orang yang ikhlas,” katanya.
Baca juga:Ciung Wanara dan Adu Ayam, Sejarah yang Jarang Diceritakan
Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Tasikmalaya karena pada hari libur tersebut tidak dapat menghadiri sejumlah agenda kota. Meski demikian, ia berharap ketidakhadirannya tidak mengurangi keberkahan bagi semua pihak.
Dalam refleksi pribadinya, Diky juga mengaku kerap khawatir dituding melakukan pencitraan. Namun baginya, keterbukaan ini penting agar para pemimpin tidak gelap mata saat memiliki kekuasaan. Ia bahkan mengenang masa ketika bertugas di Garut. Saat itu, tanpa sorotan media, ia terbiasa berjalan kaki, naik angkutan umum, hingga mengurus kebutuhan pribadi tanpa ajudan.
“Bukan untuk pencitraan. Saya hanya ingin tidak mati rasa,” ujarnya.
Baca juga:Kampung Sosial Jadi Program Perdana 2026, Diky Candra Hadir Sebagai Bentuk Dukungan Pemerintah
Melalui kisah perjalanan hidupnya termasuk masa sulit saat menjabat dan setelah mundur Diky berharap semakin banyak orang berani menjalani kebenaran meski terasa pahit.
“Ujian pasti banyak. Saya juga tidak tahu akan selalu kuat atau tidak. Tapi semua saya jalani saja,” ucapnya penuh harap.
Lamaran sederhana itu bukan hanya menjadi langkah awal menuju pernikahan sang putra, tetapi juga cerminan nilai yang terus dijaga: kejujuran, kesahajaan, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin kepada masyarakat.
Reporter: Dit








