Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAIT), Dr. Ade Jaenul Mutaqin, M.Ag, menegaskan bahwa IAT Fast 2026 bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan wadah intelektual dan kreatif untuk menjawab tantangan dakwah di era digital. Menurutnya, perubahan pola komunikasi masyarakat menuntut metode dakwah yang lebih adaptif dan inovatif, tanpa meninggalkan substansi nilai-nilai ajaran Islam.

Dr. Ade Jaenul Mutaqin menambahkan bahwa revitalisasi dakwah kreatif merupakan langkah strategis dalam membentuk karakter Islam yang berlandaskan akhlakul karimah, toleransi, serta semangat kebangsaan. Media digital harus dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana edukasi dan pencerahan, bukan justru menjadi ruang penyebaran informasi yang menyesatkan atau memecah belah umat.

Baca juga:Belajar Braille dan Berbagi Makna Syukur, Diky Candra Temui Anak Difabel di Tasikmalaya

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mahasiswa dan civitas akademika IAIT memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor dakwah yang mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat. Melalui IAT Fast 2026, diharapkan lahir gagasan, karya, serta inovasi dakwah yang mampu mengimbangi derasnya arus konten digital yang kurang mendidik, sekaligus memperkuat identitas keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.

Kegiatan IAT Fast 2026 diikuti oleh mahasiswa, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat. Selain sebagai ajang pengembangan kapasitas dakwah, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dan kolaborasi dalam merumuskan strategi dakwah Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan mengusung semangat kreativitas dan inovasi, IAT Fast 2026 diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter Islam yang kuat di tengah tantangan era digital.

Reporter: Dit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini