Kilas Tasikmalaya – Di tengah pesatnya arus modernisasi yang terus berkembang, Kampung Naga hadir sebagai salah satu bukti nyata keteguhan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur. Kampung adat ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dan dikenal luas sebagai perkampungan tradisional Sunda yang masih mempertahankan adat istiadat, pola hidup, serta arsitektur khas nenek moyang hingga saat ini.
Kampung Naga berada di sebuah lembah subur yang dikelilingi perbukitan hijau dan dialiri oleh Sungai Ciwulan. Letaknya yang berada di bawah tebing membuat kampung ini seolah tersembunyi dari hiruk-pikuk kehidupan luar. Untuk mencapai kawasan kampung, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga dari jalan utama Tasikmalaya–Garut. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman tersendiri, karena sepanjang jalan disuguhkan pemandangan alam yang asri dan menenangkan.
Nama Kampung Naga sendiri bukan berasal dari mitos atau legenda tentang makhluk naga, melainkan dari istilah Sunda “na gawir” yang berarti berada di lereng atau tebing. Seiring waktu, penyebutan tersebut disingkat dan dikenal sebagai Kampung Naga. Penamaan ini mencerminkan kondisi geografis kampung yang berada di wilayah cekungan lembah.
Kampung Naga memiliki luas sekitar 1,5 hektare, dengan jumlah rumah yang tetap dan tidak bertambah. Seluruh bangunan di kampung ini dibuat dengan bentuk, ukuran, dan arah yang seragam. Rumah-rumah warga berbentuk panggung, menggunakan atap ijuk, dinding anyaman bambu, serta tiang kayu yang berdiri di atas batu alam. Tidak ada bangunan permanen dari beton atau bahan modern, karena masyarakat meyakini bahwa keseragaman dan kesederhanaan adalah bagian dari keseimbangan hidup.
Di dalam kawasan kampung terdapat fasilitas utama seperti masjid, balai adat (bale patemon), leuit atau lumbung padi, serta makam leluhur yang dianggap sakral. Semua bangunan tersebut ditata berdasarkan aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap perubahan, sekecil apa pun, harus melalui musyawarah adat dan tidak boleh melanggar ketentuan leluhur.
Kehidupan masyarakat Kampung Naga sangat kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Warga memegang teguh prinsip hidup sederhana, gotong royong, dan menjaga keharmonisan dengan alam. Mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani, dengan sistem pertanian tradisional yang ramah lingkungan. Hasil panen disimpan di leuit sebagai simbol ketahanan pangan dan keberkahan rezeki.








