Ke depan, juga disampaikan gagasan kepada Menteri Kebudayaan terkait rencana pembangunan diorama sejarah dan budaya sebagai upaya pelestarian informasi sejarah, sekaligus pengembangan wisata budaya dan pendidikan yang diharapkan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tasikmalaya.
Selain itu, keberadaan Gedung Creative Center (GCC) dinilai sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ruang pembinaan dan pengembangan perfilman dan seni pertunjukan. Hal ini sejalan dengan latar belakang Direktur Jenderal Kebudayaan yang memiliki keahlian dan pengalaman di bidang film dan seni pertunjukan.
Dalam kesempatan tersebut juga disinggung keterlibatan salah satu penggiat perfilman nasional, Manoj Punjabi, yang sebelumnya hadir bersama Dirjen Kebudayaan.
Berbagai potensi seni dan budaya lokal lainnya turut disampaikan, termasuk keberadaan komunitas Ambu Midang, serta kekayaan seni tradisi seperti pencak silat payung sebagai identitas budaya yang perlu terus dilestarikan dan dipromosikan.
Di kesempatan terpisah, dilakukan pula pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Kepala Dinas terkait, dan Ketua KONI Tasikmalaya dengan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora). Pertemuan ini membahas kelanjutan program olahraga masyarakat, khususnya Tarkam (Turnamen Antar Kampung).
Disampaikan bahwa pada tahun 2025 Kemenpora sempat menyelenggarakan kegiatan di Kota Tasikmalaya, namun pada tahun 2026 program Tarkam tidak lagi tercantum dalam agenda kementerian. Oleh karena itu, dilakukan diskusi untuk menjajaki program alternatif yang dapat menggantikan dan tetap mendukung pembinaan olahraga masyarakat di Tasikmalaya.
Seluruh rangkaian pertemuan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah dan kementerian, guna mendorong kemajuan seni, budaya, dan olahraga, sekaligus memperkuat posisi Kota Tasikmalaya sebagai pusat aktivitas budaya dan kreativitas di wilayah Priangan Timur. (Dit)








