Bagi Chayra Fayyola Nadhif, atau yang akrab disapa Neng Antik Kapiraray, kemenangan ini terasa semakin istimewa. Pasalnya, FTBI kali ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti Lomba Pupuh, namun ia langsung mampu meraih posisi tertinggi sebagai Juara 1.

Julukan “Si Serba Bisa” pun semakin melekat pada sosok Neng Antik. Bukan tanpa alasan, siswi tersebut sebelumnya telah mengukir sejumlah prestasi di berbagai bidang.

Di bidang keagamaan, Neng Antik pernah menjadi runner-up cabang MTQ dalam kegiatan Pentas Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI).

Sementara di bidang seni tari, ia juga pernah meraih runner-up Lomba Tari Kreasi FLS2N tingkat sekolah dasar, saat tampil bersama adik-adik kelasnya, Qyara Anjani dan Anastasya.

Baca juga:Perahu Bambu dan Keindahan Alam, Situ Sanghyang Jadi Magnet Wisata Lokal

Kemampuan seni Neng Antik semakin terasah karena dirinya dikenal sebagai penari Jaipong cilik. Ia mendapatkan pembinaan di Sanggar Seni Tari Kapiraray, sanggar tari Jaipong di Subang yang dipimpin Endang Rosmiati, S.Pd., yang juga tercatat sebagai tenaga pendidik di SDN Rahayu.

Sinergi antara pendidikan formal di sekolah dan pembinaan seni di sanggar menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan potensi para siswa. Tidak hanya mengejar prestasi, pembinaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya Sunda.

Kini, keluarga besar SDN RAHAYU Sukamelang menatap optimistis FTBI tingkat Kabupaten Subang. Mereka berharap Neng Antik dan Muhammad Okta mampu memberikan penampilan terbaik serta kembali mengukir prestasi untuk sekolah, Sukamelang, dan Kabupaten Subang.(Sutia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini