Menurutnya, pesan utama dalam cerita tersebut mengajak masyarakat untuk memiliki sikap “pintar merasa” dibandingkan hanya “merasa pintar.”
Ia menjelaskan, sikap merasa pintar seringkali membuat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dijalankan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap alam, budaya, serta kehidupan masyarakat.
Baca juga:Makam Eyang Prabudilaya, Di Tengah Situ Gede yang Sarat Sejarah dan Nuansa Mistis
“Kalau merasa pintar, kadang pembangunan dan peningkatan ekonomi terus digenjot tanpa memikirkan dampak alam, produk budaya, atau kultur masyarakat. Yang penting uang,” jelasnya.
Sebaliknya, orang yang pintar merasa akan tetap memikirkan kemajuan ekonomi, namun tidak mengorbankan aspek lain seperti adat, lingkungan, serta nilai-nilai budaya.
“Ketika orang pintar merasa, maka dia tetap memikirkan pembangunan ekonomi tanpa mengorbankan adat, alam, lingkungan dan budaya masyarakat,” katanya.
Diky menegaskan, pola pikir seperti inilah yang saat ini dibutuhkan dalam pembangunan, yakni menghadirkan orang-orang yang mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian nilai-nilai kehidupan.
“Inilah yang dibutuhkan oleh kita semua, orang-orang yang pintar merasa, yang tetap memikirkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsi-fungsi lainnya,” pungkasnya.
Reporter: Dit








