Menurut Diky, dari berbagai kegiatan yang dihadirinya, cukup banyak masyarakat yang masih menampilkan seni dan budaya tradisional. Ia menilai hal tersebut merupakan sesuatu yang patut diapresiasi karena menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian budaya lokal.
“Dua kegiatan yang saya hadiri malam ini, baik di wilayah Kecamatan Tawang maupun Cibeureum, masyarakat juga menampilkan beberapa kebudayaan tradisional,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang selama ini ikut menjaga keberadaan seni budaya tradisional. Diky mengajak agar kesenian tersebut tidak hanya dipertahankan oleh generasi tua, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda.
Baca juga:Sejuk dan Menawan, Situwangi Jadi Primadona Wisata di Ciamis
“Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah membantu menjaga seni budaya tradisional. Kami juga mengajak agar seni budaya tradisional ini terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh zaman,” ujarnya.
Selain mengapresiasi seni budaya, Diky juga mengingatkan masyarakat mengenai makna simbolis bendera Merah Putih dalam momentum kemerdekaan.
“Merah itu keberanian, putih itu kesucian. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Punya keberanian tapi tidak punya kesucian, maka tidak akan bermanfaat. Mari kita isi kemerdekaan dengan keberanian berbuat baik dan kesucian hati untuk membangun kota,” pesannya.
Puncak kegiatan di Leuwigenta 3 kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Warga berharap kegiatan serupa dapat terus digelar setiap tahun, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga dan memperkenalkan seni budaya tradisional kepada generasi muda.
Semangat warga dalam menampilkan seni calung menjadi salah satu bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat dan dapat menjadi bagian penting dalam mengisi kemerdekaan.(Dit)









[…] Baca juga:Diky Candra Apresiasi Semarak HUT RI Ke-81 di Leuwigenta, Seni Calung Dinilai Perlu Dilestarikan […]