Kilas Tasikmalaya – Di balik geliat pembangunan dan arus modernisasi, wilayah Singaparna, Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, masih menyimpan denyut kehidupan tradisi yang terus bertahan hingga kini. Salah satunya adalah kerajinan besek dari bambu, sebuah produk budaya lokal yang lahir dari kearifan masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Bagi warga Singaparna, bambu bukan sekadar tanaman yang tumbuh subur di pekarangan atau pinggir kebun. Bambu adalah bagian dari kehidupan. Dari bahan alami inilah para pengrajin dengan ketelatenan dan keahlian tangan menghasilkan besek, wadah anyaman berbentuk kotak yang sejak dulu digunakan untuk menyimpan makanan, hasil bumi, hingga perlengkapan upacara adat.
Proses pembuatannya pun masih mengandalkan cara-cara tradisional, mulai dari memilih bambu yang sudah cukup umur, membelahnya secara manual, hingga menganyam dengan pola khas yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Kerajinan besek di Singaparna tidak hanya memiliki nilai fungsi, tetapi juga nilai budaya dan filosofis. Anyaman bambu yang saling mengikat melambangkan kebersamaan, gotong royong, serta keseimbangan antara manusia dan alam. Inilah sebabnya mengapa besek kerap digunakan dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Sunda, seperti hajatan, syukuran, hingga tradisi berbagi makanan kepada tetangga.
Di tengah maraknya penggunaan kemasan plastik dan bahan sekali pakai, besek bambu justru kembali menemukan momentumnya.








